Rinaldi Banurea : Siapa Saja Bebas Menyampaikan Pendapat di Muka Umum

616

Dairi-dibaktinews.com-Dairi. Negara demokratis dituntut sebagai negara yang tidak mengacuhkan rakyat atau masyarakatnya, tetapi mengikutsertakan masyarakat dalam proses kebijakannya.

Hal itu dikatakan, Rinaldi Banurea dari Federasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Pakpak kepada wartawan, Selasa (11/5/2021). Disebutkannya, rakyat sebagai pemangku kedaulatan tertinggi diharapkan dapat merasakan kesejahteraan serta pengakuan dalam pribadinya atau berkelompok di ruang publik.

“Salah satunya adalah aksi atau demonstrasi untuk menyampaikan pendapat,” ucapnya.

Siapa saja bebas menyampaikan pendapatnya baik melalui tulisan, rapat dengar pendapat, mimbar bebas, serta turun kejalan. Dan itu telah diatur dalam UU No. 9 Tahun 1998, Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

“Menyampaikan pendapat di muka umum juga dijamin dalam pasal 28 UUD 1945 yang berbunyi : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan undang-undang,” ujarnya.

Menurutnya, pada umumnya demonstrasi dilakukan, karena ketidak adilan dalam bernegara terkait kebijakan pemerintah yang timpang tindih terhadap rakyatnya sendiri.

Di Kabupaten Dairi sedang ramai ramainya bicara demonstrasi atau aksi, tapi pemerintah dan beberapa oknum membatasi ruang gerak rakyatnya bahkan mengutuk rakyatnya.

Aksi seperti ini pernah terjadi di Indonesia sebelumnya, yaitu pada tahun 1998 dan 1966, dengan tujuan reformasi karena pada saat itu Indonesia dilanda namanya krisis moneter

Selain demonstrasi 1998 dan 1966, masih ada beberapa demonstrasi besar yang pernah terjadi di Indonesia, contohnya peristiwa Malari. Nama peristiwa ini merupakan sebuah akronim dari Malapetaka 15 Januari yang terjadi pada tahun 1974.

“Demokrasi bukan hanya bicara pemilu tapi juga bicara tentang kontroling kebijakan pemerintah, dan rakyat tak boleh di bungkam . Apa bila usul ditolak tanpa di timbang, maka hanya satu kata lawan,” tegas Renaldi yang juga berprofesi sebagai guru honorer. (TM)